"Aku memang nggak bakat matematika." Kalimat seperti ini mencerminkan apa yang oleh psikolog Carol Dweck dari Stanford disebut fixed mindset — keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah sesuatu yang tetap. Lawannya, growth mindset, adalah keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha, strategi yang tepat, dan bantuan orang lain.
Gagasannya menarik: siswa yang percaya kemampuannya bisa tumbuh cenderung lebih berani mengambil tantangan, lebih tahan menghadapi kegagalan, dan pada akhirnya bisa berprestasi lebih baik. Konsep ini lalu menyebar luas ke sekolah-sekolah di berbagai negara.
Namun, seberapa besar sebenarnya efeknya? Pada 2022 terbit dua meta-analisis — studi yang merangkum banyak penelitian sekaligus — dengan kesimpulan yang tampak bertolak belakang. Tim yang dipimpin Jeni Burnette menganalisis puluhan studi dan menyimpulkan intervensi growth mindset membantu sebagian siswa, dengan dampak positif pada hasil akademik dan kesejahteraan. Tim lain, Brooke Macnamara dan rekannya, menilai banyak studi punya kelemahan desain sehingga efek yang terlihat bisa jadi berlebihan.
Menariknya, kedua tim sepakat pada satu hal: manfaat paling terlihat pada siswa yang prestasinya rendah atau berasal dari latar belakang kurang beruntung, sementara siswa berprestasi tinggi hampir tidak merasakan perubahan. Perbedaan kesimpulan mereka lebih banyak soal cara menilai kualitas penelitian, bukan soal datanya.
Dweck sendiri pernah mengingatkan soal "growth mindset palsu": memuji usaha semata tanpa memperhatikan apakah strateginya tepat, atau sekadar menempel poster motivasi di dinding kelas. Usaha yang terus-menerus dengan cara yang salah tidak akan membuahkan hasil.
Jadi, bagaimana menerapkannya dengan sehat? Pertama, ganti "aku tidak bisa" dengan "aku belum bisa", lalu cari tahu apa yang perlu dipelajari. Kedua, puji proses yang spesifik — strategi, ketekunan, perbaikan — bukan sekadar "kamu pintar". Ketiga, perlakukan kesalahan sebagai data untuk perbaikan. Keempat, padukan dengan dukungan nyata: materi yang sesuai tingkat kemampuan, umpan balik yang jelas, dan lingkungan yang aman untuk mencoba.
Growth mindset bukan obat ajaib, tapi tetap berguna sebagai cara memandang hasil tes dan kemampuan diri. Skor rendah di satu subtes bukan vonis, melainkan titik awal latihan.
Di PersonaKu, setiap kali kamu mengulang Latihan Psikotes (/psikotes), dasbor menampilkan tren skormu naik atau turun dibanding percobaan sebelumnya — cara sederhana untuk melihat bahwa kemampuan memang bisa berkembang dengan latihan.