"Anakku tipe visual, jadi harus belajar pakai gambar." Kalimat seperti ini sering terdengar di kalangan orang tua maupun guru. Konsep gaya belajar VAK โ visual, auditori, dan kinestetik โ memang sangat populer. Tapi bagaimana sebenarnya temuan riset tentang hal ini?
Gagasan yang paling sering dipercaya disebut "hipotesis pencocokan" (meshing hypothesis): seseorang akan belajar lebih baik kalau cara mengajarnya dicocokkan dengan gaya belajarnya. Misalnya, anak visual diajar dengan gambar, anak auditori dengan penjelasan lisan.
Sebuah tinjauan besar oleh Pashler dan rekan-rekannya pada 2008 memeriksa puluhan studi dan menyimpulkan belum ada bukti empiris yang kuat bahwa mengukur gaya belajar lalu mencocokkan metode mengajar dengannya meningkatkan hasil belajar. Studi-studi lain setelahnya menemukan hal serupa: siswa yang belajar sesuai "gayanya" tidak lebih unggul dibanding yang belajar dengan cara lain.
Lalu apakah preferensi belajar itu tidak ada? Ada. Seseorang bisa benar-benar lebih suka melihat diagram, mendengarkan penjelasan, atau mencoba langsung. Perbedaannya: preferensi menunjukkan apa yang terasa nyaman, bukan otomatis apa yang paling efektif. Banyak materi justru menuntut cara tertentu โ belajar musik perlu mendengar, belajar geometri perlu melihat bentuk, belajar berenang perlu praktik โ apa pun "gaya" orangnya.
Jadi, bagaimana sebaiknya? Riset pendidikan lebih konsisten mendukung strategi yang bermanfaat untuk hampir semua pelajar. Pertama, gabungkan beberapa indera sekaligus: penjelasan lisan yang disertai gambar atau praktik biasanya lebih mudah diingat. Kedua, latihan mengingat kembali (retrieval practice), misalnya kuis kecil tanpa tekanan atau menjelaskan ulang dengan kata sendiri. Ketiga, belajar dengan jeda (spaced practice): dicicil beberapa hari lebih efektif daripada sistem kebut semalam. Keempat, sesuaikan tingkat kesulitan dengan kemampuan awal anak.
Bagi orang tua, mengenali preferensi anak tetap berguna sebagai pintu masuk โ misalnya memancing minat anak yang suka bergerak dengan permainan yang aktif. Yang perlu dihindari adalah membatasi anak hanya pada satu cara, atau melabelinya "bukan tipe pendengar" sehingga ia tidak terlatih menyimak.
Di PersonaKu, bagian gaya belajar pada Tes Minat Bakat Anak (/anak) sebaiknya dibaca sebagai gambaran preferensi dan pintu masuk kegiatan yang menarik bagi anak โ lalu tetap dipadukan dengan beragam cara belajar supaya kemampuannya berkembang luas.